Ajakan Mogok Main Pengguna PlayStation: Gara-gara Game Fisik Dihapus



Jakarta - Para pengguna PlayStation bersiap untuk berdemo sebagai bentuk protes keras terhadap langkah Sony yang perlahan mulai meninggalkan rilisan game dalam bentuk disk fisik.

Gerakan perlawanan ini diinisiasi oleh Does It Play?, sebuah kelompok advokasi pelestarian game. Mereka secara terbuka mengajak para pemilik konsol untuk memberikan Sony "sedikit pelajaran" dengan mengumumkan aksi boikot massal selama satu pekan yang diberi nama PSBlackout.




Berdasarkan pengumuman tersebut, kampanye PSBlackout dijadwalkan akan dimulai pada hari Minggu, 23 Agustus mendatang. Gerakan ini merupakan respons atas kekhawatiran para gamer terhadap hilangnya kepemilikan fisik dan perlindungan hak konsumen di era serba digital.

Selama periode protes berlangsung, para partisipan diimbau untuk memutus total aktivitas mereka di ekosistem Sony dengan cara:

Tidak melakukan proses masuk (log in) ke akun PlayStation.
Tidak memainkan game apa pun melalui konsol mereka.
Menghindari segala bentuk transaksi atau pembelian konten di seluruh platform yang terafiliasi dengan PlayStation.
Aksi pemboikotan ini diharapkan dapat memberikan dampak penurunan trafik dan pendapatan sesaat yang cukup terasa, sehingga pesan dari komunitas mengenai pentingnya eksistensi media fisik dapat didengar langsung oleh jajaran eksekutif Sony, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (29/7/2026).

Keputusan Sony untuk tak lagi memproduksi cakram game PlayStation ini memicu perdebatan di berbagai pihak terkait. Ada yang kontra, namun ada juga yang mendukung.

Misalnya CEO Ubisoft Yves Guillemot, yang menilai langkah jangka panjang dari penyetopan produksi cakram ini tak seburuk yang diperkirakan banyak orang. Pernyataan Guillemot ini dikatakan selama pertemuan triwulanan dengan para investor Ubisoft.

Guillemot memberikan contoh dari pasar game PC yang bisa menjadi gambaran bagaimana ekosistem serba digital masih dapat berkembang.

"Apa yang kami lihat pada PC adalah bahwa hal itu membantu pertumbuhan pasar. Ada juga tekanan untuk masa depan terkait biaya mesin, dan kemampuan untuk sepenuhnya digital akan membantu membuat mesin lebih mudah diakses, menurut saya. Ada untung dan ruginya, tetapi kami pikir itu tidak akan terlalu mengganggu industri," ujarnya.



LihatTutupKomentar